Sabtu, 18 Januari 2014

You're The One [ YoonBum Couple ]


                                        

"Sejuta harapan akan terucap saat malam gelap bertabur bintang. Sejuta cinta akan tercurah saat hati gelap bertabur sayang. Hidup adalah sebuah kesatuan yang tak terbagi-bagi.”

You're The One

Siang telah berganti malam, bahkan bulan sudah menampakkan sinarnya. Seorang gadis hanya menatapnya nanar dari jendela rumah sakit. Tatapan matanya yang sendu menunjukan betapa lelahnya ia. Bukan karena menahan kantuk, tapi karena sudah dua tahun lebih ia hanya duduk di ranjang rumah sakit karena penyakit kanker yang sudah lama diidapnya.

Tatapanya berpindah pada seorang pemuda yang terlelap di tepi ranjangnya, dia adalah Kim Kibum. Kibum selalu setia menemani Yoona, dan tetap menjadi kekasihnya. Walaupun dia tahu, bahwa Yoona mengidap penyakit yang bahkan mungkin sulit untuk disembuhkan.

Terlintas senyum di bibir gadis itu. Melihat pemuda tampan yang kini tertidur pulas di sampingnya. Ingin rasanya ia membelai rambut pemuda itu. Tapi diurungkannya, karena takut belaian tanganya akan mengusik mimpi indah sang terkasih.

PRAAANG! Pecahan gelas berserakan kemana-mana. Refleks Kibum pun terbangun dari tidurnya,

"Apa yang terjadi Yoona-ya?" Pemuda itu langsung berdiri dari kursinya. Tanpa mempedulikan kepalanya yang agak pusing sebangun dari tidur.

Gadis itu hanya tersenyum lembut. "Mianhae, aku hanya haus. Bahkan mengambil gelas itu aku tak bisa."

Kibum membelai rambut Yoona, "Jika butuh sesuatu, katakan saja padaku." Yoona menatap mata Kibum, memang pengelihatanya sudah tak sebaik dulu. Tapi baginya, bisa mendengar suaranya saja sudah cukup.

Kibum menarik lengan Yoona, memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Tubuh gadis itu bergetar, terdengar pula isak kecil darinya. Pemuda itu dapat merasakan dada bidangnya basah karena air mata. Dielusnya rambut panjang gadis itu, rambut yang hitam dan halus.

"Sudahlah, kau tidak perlu menangis," Kibum mengeratkan pelukkanya "Apa kau tidak bisa tidur lagi?"

Yoona melepas pelukan Kibum, ia mengangguk pelan. "A-Aku takut Kibum-ah. Aku takut, ketika aku memejamkan mataku … Aku tidak akan bisa bangun lagi.” Gadis itu mengusap air matanya, lalu membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang.
           
"Jangan takut, aku yakin kau akan segera sembuh,” Kibum menggengam tangan Yoona, lalu mengusap lembut punggung tangannya

“Kau tahu, aku baru saja mimpi indah,” lanjut Kibum.

 “A-Apa itu?”
            “Aku bermimpi, kau dan aku berjalan disebuah taman yang indah. Kita tertawa bersama dan saling berpegangan tangan. Setelah sekian lama, kau akhirnya bisa sembuh dari penyakitmu. Kau sangat cantik dengan gaun putih yang melekat ditubuhmu. Dadaku pasti akan terus bergetar ketika mengingatnya. Senyumanmu benar-benar manis,

            “Rambutmu yang tergerai indah, menari-nari diterpa semilir angin. Kita terus tersenyum, saling memandang. Lalu tiba-tiba ada dua anak kecil berlari kepelukan kita” Yoona memandang wajah Kibum penuh arti. Ia tersenyum simpul, lalu memeluk erat tubuh Kibum.

“Semoga itu benar-benar terjadi.” 

"Tentu saja, pasti suatu saat nanti akan menjadi nyata. Kau harus segera sembuh." Merekapun tertawa bersama. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang. Suster membuka pintu kamar mereka.

"Kenapa belum tidur? Kau harus istirahat Nona Im!" Suster berkacak pinggang melihat tingkah laku sepasang kekasih ini. Yoona kembali berbaring di ranjangnya, sementara Kibum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


            Di suatu siang, dokter meminta waktu kepada Kibum untuk menemuinya. Seperti biasa, mereka membicarakan tentang perkembangan Yoona. Dokter sudah mengenal Kibum sejak lama, karena ia tahu Kibum selalu datang menjenguk gadis itu.

            "Usianya tidak akan lama lagi," ujar dokter. ucapan itu bagaikan petir yang menyambar tubuh Kibum. Mulutnya menganga lebar seakan tak percaya,

"T-tapi dok, tak adakah cara lain supaya Yoona sembuh?" dokter menggelengkan kepalanya,

 "Kami berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Anda harus bersabar demi kesembuhan Nona Im."

Dibalik pintu, tanpa sepengetahuan mereka, Yoona mendengar percakapan tersebut. Matanya berkaca-kaca, gadis itu membekap mulutnya agar isak tangisnya tak terdengar.


***

            Angin berhembus dengan lembut. Musim gugur telah tiba. Dedaunan pohon yang sudah tua dan kering mulai berjatuhan, berganti dengan dedaunan baru di musim semi.

            Kibum mendorong kursi roda Yoona, mereka sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit. "Syukurlah, dokter mengizinkanku untuk keluar sebentar. Aku benci bau obat." Kibum tertawa mendengar celoteh Yoona.

"Ne, sesekali kau juga harus menghirup udara segar kan?" Kibum mengusap pelan rambut Yoona.
           
Gadis itu hanya terdiam lalu menundukkan kepalanya. "Kibum-ah, aku dengar k-kau ditawari untuk membintangi film terkenal di Jepang ne?"

Kibum memutar bola matanya, "Memang, Tapi aku menolakknya--"

"Paboya! Kenapa kau tolak hah?" Yoona menyela perkataan Kibum dan menaikkan nada suaranya. Tangan gadis itu mencengkeram bajunya.
"Apa yang kau katakan Yoona-ya, aku hanya tidak ingin jauh darimu!" Nada suara Kibum tidak kalah tinggi.

"Cih, lebih baik kau lanjutkan pekerjaanmu. Daripada harus menunggui mayat sepertiku. A-aku adalah beban bagimu, aku adalah makhluk T-Tuhan yang tidak berguna, menyedihkan, tak ada gunanya aku hidup lebih lama lagi!"
           
PLAKKK!, tamparan itu mendarat mulus di pipi Yoona, meninggalkan bekas merah disana.

"APA YANG KAU KATAKAN? TIDAK ADA YANG TAHU KAPAN MANUSIA AKAN MATI?" Kibum memegangi kedua pundak Yoona, seakan tak percaya apa yang dikatakan gadisnya.
           
Yoona menepis tangan Kibum. Raut wajahnya tidak berubah. Tetap diam dengan tatapan yang dingin. Berbeda dengan Yoona yang dulu. Yang selalu ceria, dan selalu tersenyum kepada semua orang. Entah sejak kapan semua itu mulai sirna.

"Kumohon pergilah!" Pinta Yoona. Gadis itu mengalihkan pandanganya pada Kibum. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh dari pelupuk matanya.

            "Aku hanya tidak mau menjadi penghambat karirmu. Lagipula aku tidak tenang jika terus bersamamu!"

            W-Wae? Jangan khawatirkan aku, a-aku menemanimu karena memang benar-benar tulus padamu.”

            “Ck, sudah kubilang lebih baik kau pergi! Itu lebih baik.”

Kibum menghela nafasnya panjang. "Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku tidak akan menggangumu!" Setelah Kibum melangkah pergi, Tangis Yoona langsung meledak. Matanya menjadi semakin buram, karena dipenuhi air mata. "Mianhae... Mi...Mian Kibum-ah. Ji-jika kau terus a-ada di sisiku, aku akan se-semakin sedih."
           
Lalu tiba-tiba dadanya terasa nyeri, Paru-parunya serasa diremas dengan kuat. "Uhuk...Uhuk!" Yoona mencengkeram dadanya yang sakit. Darah segar keluar beriringan dengan batuknya. Yoona menatap tanganya yang penuh darah. Entah sudah keberapa kali ia mengalami hal ini, Tapi gadis itu sudah pasrah akan apa yang akan terjadi selanjutnya.


***


            Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Keadaan Yoona sendiri bukannya semakin baik, penyakitnya kini justru lebih parah. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi, tak jarang pula dia mengalami kejang tiba-tiba dan pening yang luar biasa.

Namun sekali ini adalah yang terparah. "Yoona! Bertahanlah!" Ibu Yoona yang ada disana panik setengah mati ketika tiba-tiba saja putrinya itu mengerang hebat.

Dia mencengkram erat kepalanya yang berdenyut hebat, pening bukan main."Arrgghh! Sakittt, SAKIT!" Yoona berteriak tak kuasa menahan sakit.

            Tak lama kemudian dokter datang bersama rekan-rekannya. Beberapa orang perawat langsung memasang alat-alat medis pada gadis itu, "Gawat! tekanan jantungnya semakin menurun, dokter lakukan sesuatu!"

"Cepat! Kita lakukan pacu jantung sekarang!" Segala macam cara dilakukan untuk meringankan sakit di tubuh Yoona, tapi kali ini tidak berhasil, Gadis itu semakin lemas tidak berdaya, saking hebatnya menahan rasa sakitnya sejak tadi.

            Ibu Yoona menunggu dari luar kamar rumah sakit. Tanganya gemetar, rentetan doa sudah banyak diucapkanya. Berharap putrinya baik-baik saja. Wanita paruh baya itu meraih telepon genggamnya, menelpon seseorang.

"Yeoboseyo, Kibum-ssi! Gawat keadaan Yoona semakin parah! Dia sedang dipacu jantung sekarang!" jelas Ibu Yoona

"A-Apa?! Tunggu ajhuma. Aku akan segera kesa--" Jawab Kibum panik.
            
TUUUUUUT...

            Dokter keluar dari kamar Yoona. Raut wajah sedih dan menyesal tepampang jelas di wajahnya.  "Mianhamnida, Kami sudah berusaha sebaik mungkin."

Ibu Yoona langsung menjatuhkan handphonenya, tak mendengar suara Kibum yang masih memanggil-manggil namanya.

***

            Tubuh gadis cantik itu kini tebujur kaku tidak berdaya. Wajah cantiknya, tertutupi selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Kibum mengenggam erat tangan gadis itu. Dingin, sedingin es.

Dibukanya selimut tipis itu, lalu ia kecup kening gadis tercintanya tersebut. Air matanya mengalir membasahi pipi pemuda itu. Menyesal rasanya ia, seandainya saja ia dapat menemani Yoona di saat-saat terakhirnya.

***

            Pemakaman Yoona telah usai. Semua orang hadir dalam acara tersebut. Sahabat-sahabat Yoona yaitu Yuri, Taeyeon dan Jessica. Juga tak kuasa menahan tangisnya. Bahkan Choi Siwon, mantan kekasihnya juga hadir mengantar kepergian Yoona.

Sebelum pergi, Siwon menepuk bahu Kibum. "Kau harus tegar ne," Ucap Siwon. Senyuman lembut terpancar di bibirnya.

"Gomawo," Jawab Kibum singkat. Ia membalas senyum Siwon, walaupun kini matanya sudah sangat bengkak.

            Ketika semua orang pergi, Kibum masih berjongkok di samping kuburan Yoona. Tanganya mengelus-elus batu nisan yang tertancap disana. Ia mengambil sesuatu dari saku kemeja hitamnya. Itu adalah surat terakhir dari Yoona untukknya. Ibu Yoona yang menemukanya dibalik bantal putrinya.

            'Annyeong! Aku Im Yoona ingin mengutarakan sesuatu. Mian jika selama ini aku selalu merepotkan, tapi ini pesan terakhirku.
           
Yang pertama untuk eomma, dan seluruh teman-temanku. Terima kasih telah menjagaku, menerimaku yang menyedihkan ini. Kalian selalu menerimaku apa adanya dan tidak merasa jijik terhadapku. Aku menyayangi kalian.
           
Lalu, untuk Kibum. Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Padahal di luar hujan salju, tapi aku masih nekat pergi untuk meminta tanda tanganmu, Dan kau meminjamkan mantelmu padaku, "Yeoja cantik sepertimu tidak seharusnya kedinginan disini" begitu ucapmu. Aku tak akan melupakanya, senyuman tulusmu.
           
Aku tak percaya, bisa menjadi yeojachingumu. Kau adalah idolaku yang sangat kukagumi. Yah, Walaupun penyakit ini merenggutku ... Dan membuyarkan seluruh impianku.
           
Andaikan aku punya mesin waktu. Aku pasti bisa menghentikan waktu disaat kita bahagia bersama, tertawa bersama. Hah…Tapi semuanya tampaknya telah berakhir. Kisah kita berdua, akan hilang sia-sia. Rasanya ingin menangis saat aku mengingatnya.
Tetaplah sehat, jagalah tubuhmu agar tidak sepertiku. Makanlah yang teratur, jangan terlalu banyak minum, dan tetaplah tersenyum pada semua orang. Berbahagialah! itulah yang kuinginkan.

            Aissh...kepalaku semakin sakit, mianhae jika tulisanku tidak terbaca. Aku menulis ini dengan sisa-sisa tenagaku. Jaga dirimu baik-baik ne? Mianhae atas kata-kata kasarku waktu itu. Sejujurnya aku Bahagiaaa sekali bisa bersamamu. Kuharap kau bisa bertemu dengan gadis yang lebih sehat dari pada aku ne?. Saranghae.'

            Kibum melipat kembali surat itu, Kepalanya menengadah ke atas. Melihat indahnya langit biru.

 "Apapun yang terjadi, kau tetaplah cinta sejatiku Im Yoona… Kau akan menjadi satu-satunya bagiku," pemuda itu tersenyum menatap langit, air matanya kembali membasahi pipinya, "Semoga kau bahagia di surga."

“Aku akan menjadi bintang yang menerangi malammu, yang meski kecil tapi dapat memancarkan cahayanya sendiri. Walaupun jarak kita telah jauh, aku akan selalu melihatmu, memandangmu, dan tetap mendoakanmu dari kejauhan.”---Im Yoona


END









Tidak ada komentar:

Posting Komentar