"Sejuta harapan akan terucap saat malam gelap bertabur bintang.
Sejuta cinta akan tercurah saat hati gelap bertabur sayang. Hidup adalah sebuah
kesatuan yang tak terbagi-bagi.”
You're The One
Siang telah berganti malam, bahkan bulan sudah menampakkan
sinarnya. Seorang gadis hanya menatapnya nanar dari jendela rumah sakit.
Tatapan matanya yang sendu menunjukan betapa lelahnya ia. Bukan karena menahan
kantuk, tapi karena sudah dua tahun lebih ia hanya duduk di ranjang rumah sakit
karena penyakit kanker yang sudah lama diidapnya.
Tatapanya berpindah pada seorang pemuda yang terlelap di tepi
ranjangnya, dia adalah Kim Kibum. Kibum selalu setia menemani Yoona, dan tetap
menjadi kekasihnya. Walaupun dia tahu, bahwa Yoona mengidap penyakit yang
bahkan mungkin sulit untuk disembuhkan.
Terlintas senyum di bibir gadis itu. Melihat pemuda tampan
yang kini tertidur pulas di sampingnya. Ingin rasanya ia membelai rambut pemuda
itu. Tapi diurungkannya, karena takut belaian tanganya akan mengusik mimpi
indah sang terkasih.
PRAAANG! Pecahan gelas berserakan kemana-mana. Refleks Kibum pun terbangun dari
tidurnya,
"Apa yang terjadi Yoona-ya?" Pemuda itu
langsung berdiri dari kursinya. Tanpa mempedulikan kepalanya yang agak pusing
sebangun dari tidur.
Gadis itu hanya tersenyum lembut. "Mianhae, aku
hanya haus. Bahkan mengambil gelas itu aku tak bisa."
Kibum membelai rambut Yoona, "Jika butuh sesuatu,
katakan saja padaku." Yoona menatap mata Kibum, memang pengelihatanya
sudah tak sebaik dulu. Tapi baginya, bisa mendengar suaranya saja sudah cukup.
Kibum menarik lengan Yoona, memeluk tubuh gadis itu
erat-erat. Tubuh gadis itu bergetar, terdengar pula isak kecil darinya. Pemuda
itu dapat merasakan dada bidangnya basah karena air mata. Dielusnya rambut
panjang gadis itu, rambut yang hitam dan halus.
"Sudahlah, kau tidak perlu menangis," Kibum
mengeratkan pelukkanya "Apa kau tidak bisa tidur lagi?"
Yoona melepas pelukan Kibum, ia mengangguk pelan. "A-Aku
takut Kibum-ah. Aku takut, ketika aku memejamkan mataku … Aku tidak
akan bisa bangun lagi.” Gadis itu mengusap air matanya, lalu membaringkan
tubuhnya kembali ke ranjang.
"Jangan takut, aku yakin kau akan segera sembuh,” Kibum
menggengam tangan Yoona, lalu mengusap lembut punggung tangannya
“Kau tahu, aku baru saja mimpi indah,” lanjut Kibum.
“A-Apa itu?”
“Aku bermimpi, kau dan aku berjalan
disebuah taman yang indah. Kita tertawa bersama dan saling berpegangan tangan.
Setelah sekian lama, kau akhirnya bisa sembuh dari penyakitmu. Kau sangat
cantik dengan gaun putih yang melekat ditubuhmu. Dadaku pasti akan terus
bergetar ketika mengingatnya. Senyumanmu benar-benar manis,
“Rambutmu yang tergerai indah,
menari-nari diterpa semilir angin. Kita terus tersenyum, saling memandang. Lalu
tiba-tiba ada dua anak kecil berlari kepelukan kita” Yoona memandang wajah Kibum
penuh arti. Ia tersenyum simpul, lalu memeluk erat tubuh Kibum.
“Semoga itu benar-benar terjadi.”
"Tentu saja, pasti suatu saat nanti akan menjadi nyata.
Kau harus segera sembuh." Merekapun tertawa bersama. Tiba-tiba terdengar
suara langkah kaki seseorang. Suster membuka pintu kamar mereka.
"Kenapa belum tidur? Kau harus istirahat Nona Im!"
Suster berkacak pinggang melihat tingkah laku sepasang kekasih ini. Yoona
kembali berbaring di ranjangnya, sementara Kibum menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
***
Di suatu siang, dokter meminta
waktu kepada Kibum untuk menemuinya. Seperti biasa, mereka membicarakan tentang
perkembangan Yoona. Dokter sudah mengenal Kibum sejak lama, karena ia tahu Kibum
selalu datang menjenguk gadis itu.
"Usianya tidak akan
lama lagi," ujar dokter. ucapan itu bagaikan petir yang menyambar tubuh
Kibum. Mulutnya menganga lebar seakan tak percaya,
"T-tapi dok, tak adakah cara lain supaya Yoona
sembuh?" dokter menggelengkan kepalanya,
"Kami berjanji
akan berusaha sebaik mungkin. Anda harus bersabar demi kesembuhan Nona
Im."
Dibalik pintu, tanpa sepengetahuan mereka, Yoona mendengar
percakapan tersebut. Matanya berkaca-kaca, gadis itu membekap mulutnya agar
isak tangisnya tak terdengar.
***
Angin berhembus dengan lembut.
Musim gugur telah tiba. Dedaunan pohon yang sudah tua dan kering mulai
berjatuhan, berganti dengan dedaunan baru di musim semi.
Kibum mendorong kursi roda Yoona,
mereka sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit. "Syukurlah,
dokter mengizinkanku untuk keluar sebentar. Aku benci bau obat." Kibum
tertawa mendengar celoteh Yoona.
"Ne, sesekali kau juga harus menghirup udara
segar kan?" Kibum mengusap pelan rambut Yoona.
Gadis itu hanya terdiam lalu menundukkan kepalanya.
"Kibum-ah, aku dengar k-kau ditawari untuk membintangi film
terkenal di Jepang ne?"
Kibum memutar bola matanya, "Memang, Tapi aku
menolakknya--"
"Paboya! Kenapa kau tolak hah?" Yoona menyela
perkataan Kibum dan menaikkan nada suaranya. Tangan gadis itu mencengkeram
bajunya.
"Apa yang kau katakan Yoona-ya, aku hanya tidak
ingin jauh darimu!" Nada suara Kibum tidak kalah tinggi.
"Cih, lebih baik kau lanjutkan pekerjaanmu. Daripada harus
menunggui mayat sepertiku. A-aku adalah beban bagimu, aku adalah makhluk
T-Tuhan yang tidak berguna, menyedihkan, tak ada gunanya aku hidup lebih lama
lagi!"
PLAKKK!, tamparan itu mendarat mulus di pipi Yoona,
meninggalkan bekas merah disana.
"APA YANG KAU KATAKAN? TIDAK ADA YANG TAHU KAPAN MANUSIA
AKAN MATI?" Kibum memegangi kedua pundak Yoona, seakan tak percaya apa
yang dikatakan gadisnya.
Yoona menepis tangan Kibum. Raut wajahnya tidak berubah.
Tetap diam dengan tatapan yang dingin. Berbeda dengan Yoona yang dulu. Yang
selalu ceria, dan selalu tersenyum kepada semua orang. Entah sejak kapan semua
itu mulai sirna.
"Kumohon pergilah!" Pinta Yoona. Gadis itu
mengalihkan pandanganya pada Kibum. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya
tidak jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku hanya tidak mau menjadi
penghambat karirmu. Lagipula aku tidak tenang jika terus bersamamu!"
“W-Wae?
Jangan khawatirkan aku, a-aku menemanimu karena memang benar-benar tulus
padamu.”
“Ck, sudah kubilang lebih baik kau
pergi! Itu lebih baik.”
Kibum menghela nafasnya panjang. "Baiklah, jika itu
keinginanmu. Aku tidak akan menggangumu!" Setelah Kibum melangkah pergi,
Tangis Yoona langsung meledak. Matanya menjadi semakin buram, karena dipenuhi
air mata. "Mianhae... Mi...Mian Kibum-ah.
Ji-jika kau terus a-ada di sisiku, aku akan se-semakin sedih."
Lalu tiba-tiba dadanya terasa nyeri, Paru-parunya serasa
diremas dengan kuat. "Uhuk...Uhuk!" Yoona mencengkeram dadanya yang
sakit. Darah segar keluar beriringan dengan batuknya. Yoona menatap tanganya
yang penuh darah. Entah sudah keberapa kali ia mengalami hal ini, Tapi gadis
itu sudah pasrah akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
Seminggu telah berlalu sejak hari
itu. Keadaan Yoona sendiri bukannya semakin baik, penyakitnya kini justru lebih
parah. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi,
tak jarang pula dia mengalami kejang tiba-tiba dan pening yang luar biasa.
Namun sekali ini adalah yang terparah. "Yoona!
Bertahanlah!" Ibu Yoona yang ada disana panik setengah mati ketika
tiba-tiba saja putrinya itu mengerang hebat.
Dia mencengkram erat kepalanya yang berdenyut hebat, pening
bukan main."Arrgghh! Sakittt, SAKIT!" Yoona berteriak tak kuasa
menahan sakit.
Tak lama kemudian dokter datang
bersama rekan-rekannya. Beberapa orang perawat langsung memasang alat-alat
medis pada gadis itu, "Gawat! tekanan jantungnya semakin menurun, dokter
lakukan sesuatu!"
"Cepat! Kita lakukan pacu jantung sekarang!" Segala
macam cara dilakukan untuk meringankan sakit di tubuh Yoona, tapi kali ini
tidak berhasil, Gadis itu semakin lemas tidak berdaya, saking hebatnya menahan
rasa sakitnya sejak tadi.
Ibu Yoona menunggu
dari luar kamar rumah sakit. Tanganya gemetar, rentetan doa sudah banyak
diucapkanya. Berharap putrinya baik-baik saja. Wanita paruh baya itu meraih
telepon genggamnya, menelpon seseorang.
"Yeoboseyo, Kibum-ssi! Gawat keadaan
Yoona semakin parah! Dia sedang dipacu jantung sekarang!" jelas Ibu Yoona
"A-Apa?! Tunggu ajhuma. Aku akan segera kesa--"
Jawab Kibum panik.
TUUUUUUT...
Dokter keluar dari kamar Yoona.
Raut wajah sedih dan menyesal tepampang jelas di wajahnya. "Mianhamnida,
Kami sudah berusaha sebaik mungkin."
Ibu Yoona langsung menjatuhkan handphonenya, tak mendengar suara Kibum yang masih
memanggil-manggil namanya.
***
Tubuh gadis cantik itu kini tebujur
kaku tidak berdaya. Wajah cantiknya, tertutupi selimut tipis yang membungkus
tubuhnya. Kibum mengenggam erat tangan gadis itu. Dingin, sedingin es.
Dibukanya selimut tipis itu, lalu ia kecup kening gadis
tercintanya tersebut. Air matanya mengalir membasahi pipi pemuda itu. Menyesal
rasanya ia, seandainya saja ia dapat menemani Yoona di saat-saat terakhirnya.
***
Pemakaman Yoona telah usai. Semua
orang hadir dalam acara tersebut. Sahabat-sahabat Yoona yaitu Yuri, Taeyeon dan
Jessica. Juga tak kuasa menahan tangisnya. Bahkan Choi Siwon, mantan kekasihnya
juga hadir mengantar kepergian Yoona.
Sebelum pergi, Siwon menepuk bahu Kibum. "Kau harus
tegar ne," Ucap Siwon. Senyuman lembut terpancar di bibirnya.
"Gomawo," Jawab Kibum singkat. Ia membalas
senyum Siwon, walaupun kini matanya sudah sangat bengkak.
Ketika semua orang pergi, Kibum
masih berjongkok di samping kuburan Yoona. Tanganya mengelus-elus batu nisan
yang tertancap disana. Ia mengambil sesuatu dari saku kemeja hitamnya. Itu
adalah surat terakhir dari Yoona untukknya. Ibu Yoona yang menemukanya dibalik
bantal putrinya.
'Annyeong! Aku Im Yoona ingin
mengutarakan sesuatu. Mian jika selama ini aku selalu merepotkan, tapi ini
pesan terakhirku.
Yang pertama untuk eomma, dan seluruh teman-temanku.
Terima kasih telah menjagaku, menerimaku yang menyedihkan ini. Kalian selalu
menerimaku apa adanya dan tidak merasa jijik terhadapku. Aku menyayangi kalian.
Lalu, untuk Kibum. Apa kau ingat saat pertama kali kita
bertemu? Padahal di luar hujan salju, tapi aku masih nekat pergi untuk meminta
tanda tanganmu, Dan kau meminjamkan mantelmu padaku, "Yeoja cantik
sepertimu tidak seharusnya kedinginan disini" begitu ucapmu. Aku tak akan
melupakanya, senyuman tulusmu.
Aku tak percaya, bisa menjadi yeojachingumu. Kau adalah
idolaku yang sangat kukagumi. Yah, Walaupun penyakit ini merenggutku ... Dan
membuyarkan seluruh impianku.
Andaikan aku punya mesin waktu. Aku pasti bisa
menghentikan waktu disaat kita bahagia bersama, tertawa bersama. Hah…Tapi
semuanya tampaknya telah berakhir. Kisah kita berdua, akan hilang sia-sia.
Rasanya ingin menangis saat aku mengingatnya.
Tetaplah sehat, jagalah tubuhmu agar tidak sepertiku.
Makanlah yang teratur, jangan terlalu banyak minum, dan tetaplah tersenyum pada
semua orang. Berbahagialah! itulah yang kuinginkan.
Aissh...kepalaku semakin sakit,
mianhae jika tulisanku tidak terbaca. Aku menulis ini dengan sisa-sisa
tenagaku. Jaga dirimu baik-baik ne? Mianhae atas kata-kata kasarku waktu itu.
Sejujurnya aku Bahagiaaa sekali bisa bersamamu. Kuharap kau bisa bertemu dengan
gadis yang lebih sehat dari pada aku ne?. Saranghae.'
Kibum melipat kembali surat itu,
Kepalanya menengadah ke atas. Melihat indahnya langit biru.
"Apapun yang
terjadi, kau tetaplah cinta sejatiku Im Yoona… Kau akan menjadi satu-satunya
bagiku," pemuda itu tersenyum menatap langit, air matanya kembali
membasahi pipinya, "Semoga kau bahagia di surga."
“Aku akan menjadi bintang yang menerangi
malammu, yang meski kecil tapi dapat memancarkan cahayanya sendiri. Walaupun
jarak kita telah jauh, aku akan selalu melihatmu, memandangmu, dan tetap
mendoakanmu dari kejauhan.”---Im Yoona
END